What if I Die - Megasus

Friday, July 1, 2022

What if I Die

 

Bagaimana jika aku mati?

Pertanyaan itu muncul di kepalaku sepuluh tahun lalu di tengah bising yang tak kunjung usai ditelan malam dari atas jembatan penyeberangan.

“Peraih nilai tertinggi semester ini, Sapta Rastafara!”

Buruk. Benar-benar buruk. Kala itu aku hanya terduduk di bangkuku seolah tak berniat untuk mengambil rapor milikku di tangan Bu Vivi. Bukannya tak senang aku menjadi juara umum lagi semester ini, tapi hal buruk akan benar-benar terjadi setelah ini.

“Sini lo!” Seorang gadis menyeretku keluar tepat ketika bel pulang meraung kencang. “Berani-beraninya lo ngelawan gue! Bukannya gue udah bilang kalau semester ini gue yang harus jadi juara umumnya?!”

BYUR!

Dan begitulah gadis itu menyiramku dengan air dingin dan kotor dari kamar mandi sekolah sebelum menutup pintu kayu di depanku dan mengunciku di sana seperti biasa. Bukan sekali-dua kali hal ini terjadi, tapi hampir setiap semester ia memperlakukanku seperti itu. Seolah seluruh dunia harus mematuhinya hanya karena ia kaya. Bukan bermaksud iri, aku hanya kesal melihatnya menggangguku setiap kali. Tanpa sadar, air mata mengaliri wajahku begitu saja. Apa gunanya nilai bagus jika akhirnya selalu sama?

“Anak yang merepotkan,” ujar satpam yang membukakanku pintu kamar mandi satu setengah jam kemudian.

“Gurumu bilang, nilai ulanganmu paling tinggi lagi semester ini?” Seorang wanita bertanya padaku ketika aku baru membuka pintu rumah. Dengan agak gugup, aku mengangguk.

“Apa gunanya nilai tinggi? Pembunuh akan tetap menjadi pembunuh sampai dia

mati! Celetukan  yang  datang  dari  ruang  tengah  itu  menyayat  hatiku.  Kata-kata  kasar lainnya kembali keluar dari mulut ayah yang tengah mengisap sebatang rokok di tangan kirinya, menyemburkan asap yang kian menyesakkan dada.

“Oh, jadi kamu masih saja ingat dengan perempuan itu?” Kali ini suara bernada tinggi dari wanita di depanku mendominasi. Ia melangkah menghampiri ayah yang juga mulai marah.

“Jelas   saja   aku   ingat   dengannya!   Dia   bukan   perempuan   culas   sepertimu! Menikahimu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku!” balas ayah tak mau kalah.

“Jika kamu begitu mencintainya, mengapa kamu menikahiku dan menghancurkan hidupku yang begitu berharga?!”

“Apalagi  kalau  bukan  karena  hartamu?  Siapa  sangka  sekarang  aku  harus  hidup melarat begini karena kamu tak berguna lagi!”

“Tutup mulutmu, Mas! Kamu yang gila berjudi dan menghabiskan setiap rupiah yang aku punya! Bisa-bisanya sekarang kamu menyalahkanku atas kebodohanmu sendiri!”

“Jaga bicaramu!”

“Aku minta   cerai!”

Dengan air mata yang perlahan menderas, aku memilih pergi ke kamarku di belakang teras.  Pertengkaran  seperti ini  telah  terjadi  setiap  hari  sejak  usaha  Tante  Sinta  bangkrut  dan memaksa  kami  semua  tinggal di  perkampungan  kumuh,  dengan  rumah  sederhana,  dan hidup seadanya. Mengais rupiah yang rupanya semakin langka.

Bahkan ayah masih menyalahkanku atas kematian ibu hingga saat ini. Memandangku bagai pembunuh keji yang merenggut nyawa ibuku sendiri. Yang nyatanya memang benar. Ibuku menyerahkan nyawanya demi kelahiranku ke dunia.

“Eh,  lo tahu, enggak sepatu gue di  mana?” Pertanyaan  itu terdengar ketika aku hendak memasuki kamar. Kakak tiriku celingukan mencari sepatunya di sekeliling rumah. Masalah baru datang karena sepatu itu baru kupinjam dan sialnya masih berada di sekolah.

“Apa?” Pemuda itu melotot ke arahku ketika mendengar tentang nasib sepatunya. Ia segera mendekat kemudian menjambak rambutku kuat-kuat. “Ambil sekarang!” bentaknya.

T-tapi Kak, sekarang sudah malam.” jawabku sambil meringis menahan sakit.

“Gue nggak peduli! Gue mau jalan sama pacar gue pakai sepatu itu! Lo ambil sekarang, atau gue botakin rambut lo!”

Dan  malam  itu,  aku  yang  bahkan  belum  mengganti  seragam  berlari  sembari menahan tangis menuju sekolah hanya untuk mendapati pagar tinggi yang telah tertutup rapat. Tak ada celah, bahkan seisi sekolah pun telah gelap.

Aku yang tak berani pulang berjalan tanpa tujuan, berhenti di atas jembatan penyeberangan  dengan  pikiran  tak  karuan  dan  air  mata  yang  mendesak  keluar.  Untuk ukuran gadis lima belas tahun, dunia menamparku terlalu keras untuk bisa tumbuh seperti anak- anak pada umumnya. Rumah yang tak lagi terasa seperti tempat pulang, teman-teman yang kejam, serta orang-orang tanpa perasaan membuat pikiran akan kematian kerap datang. Bagaimana jika sejak awal aku tak pernah dilahirkan?

Tanpa sadar, aku telah memanjat pagar pembatas jembatan. Menatap lalu-lalang kendaraan sambil membayangkan tubuhku terjun bebas ke arah sana, diterjang ratusan kendaraan yang tengah saling berlomba menambah kecepatan. Dengan mata yang masih sembap, aku bersiap melompat ketika sebuah tangan menarikku ke belakang.

“Sedang  apa  kamu?!  Mau  bunuh  diri  di  sini?!”  Anak  yang  tampak  seumuran denganku itu bertanya dengan napas terengah-engah, menatapku ngeri. Merasa terabaikan, ia menghela napas lalu mengulurkan tangannya padaku. “Namaku Rifky. Kalau kamu ada masalah, cerita saja padaku. Jangan melakukan hal bodoh lagi seperti tadi.

Siapa  sangka  pertemuan  singkat  itu  menjadi  titik  balik  terbesar  dalam hidupku. Setelah susah payah menyelesaikan sekolahku, Rifky membantuku keluar dari rumah dan mencarikanku kontrakan dengan harga murah. Aku yang sudah lulus SMA mulai bekerja seadanya untuk kehidupan sehari-hari. Namun suatu ketika, Rifky menyuruhku mendaftar program beasiswa di salah satu universitas ternama. Ia terus memaksaku hingga akhirnya terpaksa kuturuti kemauannya.

Singkat cerita, aku diterima. Hal yang sampai saat ini masih membuatku tak percaya. Berkuliah di salah satu kampus ternama dengan biaya yang mencapai puluhan juta tiap semesternya, memimpikannya saja aku tak kuasa. Namun tidak dengan Rifky. Ia percaya bahwa seperti orang-orang lain di luar sana, aku juga berhak memilih jalan hidupku sendiri. Ia adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan dalam hidupku. Ia membantuku meraih hal-hal yang sebelumnya tak pernah kuimpikan. Ia mendukungku dengan penuh kepercayaan dan menghadirkan bahagia yang entah sejak kapan kembali kurasakan.

Pernah suatu kali aku bertanya mengapa ia menyelamatkanku dari jembatan malam

itu. “Karena kamu mengingatkanku pada ibu.” jawabnya dengan nada sendu. “Ibuku bunuh diri tujuh belas tahun lalu di sana. Meninggalkan luka yang sampai kapan pun tak akan pernah mereda.” Aku menatapnya iba.

Setelahnya kami berpisah. Rifky mendapat beasiswa dari salah satu universitas di Negeri Sakura. Meninggalkanku yang diam-diam menyimpan rasa padanya. Perasaan yang hingga kini masih kusimpan rapi dalam sebuah ruang khusus di hati.

Kabar baiknya, setelah hampir tiga tahun berpisah, kami akan bertemu lagi hari ini. Rifky berjanji akan pulang untuk menemuiku di sini, menyebakan gejolak rindu yang tak tertahankan lagi.

Bagaimana jika aku mati?

Pertanyaan itu terlintas lagi kini setelah aku menerima telepon dari polisi. Mengabarkan bahwa Rifky menjadi korban tabrak lari dalam perjalanan menuju ke sini.

Dan malam ini, aku berdiri di tempat yang sama sepuluh tahun lalu ketika kami

berdua pertama kali bertemu. Diam menatap lalu lintas yang semakin meluas dengan lemas. Jika  aku  melompat  lagi,  akankah  Rifky  kembali  datang  dan  menyelamatkanku  seperti sepuluh tahun lalu?

BRUK!

Ternyata tidak.

(By : Qonita Rahmania)


Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda